Sabtu, 15 Juni 2013

PEMBUATAN JALAN ANGKUTAN KAYU



Kegiatan pembukaan wilayah hutan, utamanya pembuatan jalan angkutan kayu dilaksanakan pada tahun pertama sebelum kegiatan pemanenan (Et-1).  

 Perencanaan pembuatan jalan angkutan kayu meliputi; jalan utama dan jalan cabang dengan urutan kegiatan, antara lain ;

1.      Pembuatan trace jalan di atas peta rencana jalan (skala 1 : 10.000).
2.      Pembuatan jalur trace jalan di lapangan selebar sekitar 2 meter.
3.      Pemasangan ajir sebagai tanda poros bakal badan jalan.
4.      Pelaksanaan pembuatan jalan dengan menggunakan alat berat.



Teknis pembuatan jalan angkutan kayu dengan urutan kegiatan berupa;

1.      Pioneering, kegiatan pembukaan daerah milik jalan (DMJ) yang meliputi pembersihan semua tanaman atau material lainnya yang berada di atas jalur jalan.
2.      Stripping top soil, kegiatan pengupasan dan pengumpulan top soil setebal 10-20 cm kearah kanan-kiri bakal badan jalan.
3.      Cut and Fill, kegiatan pemindahan tanah untuk pembentukan badan jalan melalui proses penggalian/pemotongan dan pengurugan.
4.      Grading and leveling, kegiatan pembentukan dan perataan badan jalan setelah dilakukan proses gali urug.
5.      Compacting 1st, kegiatan pemadatan badan jalan yang masih berupa jalan tanah.


6.      Ripping and dozing, khusus untuk jalan utama, merupakan kegiatan pengumpulan batuan sebagai bahan lapis perkerasan jalan.
7.      Loading, transporting and unloading, khusus untuk jalan utama, merupakan kegiatan pemuatan, pengangkutan dan pembongkaran material pengeras jalan.
8.      Spreading/leveling, khusus untuk jalan utama, merupakan kegiatan menebar dan meratakan material pengeras di atas badan jalan.
9.      Compacting 2nd, khusus untuk jalan utama, merupakan kegiatan pemadatan kedua terhadap badan jalan yang telah mendapat penebaran dan perataan material perkerasan.
Sedangkan mengenai spesifikasi jalan yang akan dibuat adalah sebagai berikut :

A.    Jalan Utama
1.      Kerapatan jalan sekitar 5 m/hektar.
2.      Lebar badan jalan sekitar 10 meter
3.      Lebar perkerasan jalan sekitar 8 meter.
4.      Lebar selokan kiri-kanan badan jalan masing-masing sekitar 0,75 meter.
5.      Lebar daerah milik jalan (DMJ) maksimum 25 meter.
6.      Kemiringan maksimum 7 %.
7.      Jarak pandang minimum 40 meter.
8.      Radius belokan minimum 30 meter.

B.      Jalan Cabang
1.      Kerapatan jalan sekitar 10 m/hektar.
2.      Lebar badan jalan sekitar 8 meter.
3.      Tanpa perkerasan dan pemadatan ke-2.
4.      Lebar selokan kiri-kanan badan jalan masing-masing 0,5 meter.
5.      Lebar daerah milik jalan maksimum 20 meter.
6.      Kemiringan maksimum 10%.
7.      Jarak pandang minimum 20 meter.
8.      Radius belokan minimum 20 meter.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar