Tampilkan postingan dengan label sertifikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sertifikasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Juni 2013

POHON MADU



Secara umum yang dikenal sebagai pohon madu alias jenis pohon yang disukai dan biasa dijadikan tempat bersarangnya lebah madu adalah Pohon Manggeris, sehingga sudah familiar bahwa pohon Manggeris disebutkan sebagai pohon madu.

Akan tetapi ternyata, terdapat jenis pohon lain yang kadangkala dijadikan sarang lebah madu, yaitu; pohon Keruing.  Namun belum diketahui dengan pasti jenis pohon Keruing seperti apa yang dapat dijadikan tempat sarang lebah madu, mengingat walau kadangkala ditemukan sebagaimana foto di bawah ini, tetapi jumlahnya sangat jarang dibandingkan pohon manggeris.  Artinya walau banyak pohon keruing, namun sedikit sekali yang dijadikan tempat bersarangnya madu.  

Pertanyaan;  kenapa sarang lebah madu umumnya di atas pohon Manggeris dan kenapa pula walau jarang, terdapat juga pohon keruing yang dijadikan sarang lebah madu.?.?



POHON GEROWONG



Sepintas keberadaan pohon gerowong sepertinya merupakan barang yang mubadzir, memang apabila pohon gerowong terlanjur ditebang, maka akan merupakan sebuah limbah tebangan yang tidak banyak manfaatnya.  Akan tetapi sebenarnya, manakala pohon gerowong dibiarkan tetap tegak berdiri alias tidak ditebang malah memberikan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan satwa di alam liar.


Banyak satwa di alam liar yang dalam hidup kesehariannya tergantung atau paling tidak dipengaruhi dengan keberadaan pohon gerowong ini, utamanya bagi satwa-satwa yang membuat sarang di dalam gerowongnya pohon.

Untuk itu, sebaiknya teknik mengenali pohon gerowong sebelum ditebang senantiasa disosialisasikan kepada para operator chainsaw, sehingga tidak merugikan bagi penebang karena harus mengeluarkan tenaga dan biaya, sementara kayunya tidak dapat dimanfaatkan sekaligus mengakibatkan kerugian lingkungan yang tidak perlu.

Kamis, 13 Juni 2013

MONITORING CURAH HUJAN



Pencatatan harian curah hujan dapat memberikan gambaran perilaku cuaca di suatu tempat yang dapat dijadikan satu diantara pertimbangan dalam pengelolaan suatu kegiatan operasional lapangan.  Kadangkala banyak pihak beranggapan monitoring dimaksud haruslah selalu dengan menggunakan kelengkapan peralatan yang rumit.

Gambar di bawah ini, menunjukan bahwa monitoring cuaca dapat dilakukan dengan cara yang sederhana.


Sabtu, 20 April 2013

Kesiapan Personnel vs Sertifikasi



Pelaksanaan sertifikasi hutan skema Lembaga Ekolabel Indonesia atau skema Forest Stewardship Council memerlukan tahapan persiapan dan kesiapan.   Satu hal yang pasti adalah adanya kesiapan personnel pada unit konsesi yang akan melakukan sertifikasi hutan yang dapat memahami setiap Principle ataupun Kriteria & Indikator.  Sebaiknya disiapkan 3 atau 4 orang personnel yang memahami pada masing-masing aspek; Produksi, Sosial dan Lingkungan, ditambah 1 orang atau satu diantaranya yang memahami keterkaitan satu dengan lainnya, sehingga akan memudahkan memberikan arahan kepada anggota team lainnya.

Adanya kesiapan personnel yang memahami secara detail pada setiap aspek akan memudahkan persiapan dan sekaligus dapat dijadikan sebagai team internal audit yang akan melakukan monitoring dan evaluasi atas implementasi kegiatan harian.

Dengan tersedianya team kecil tadi, juga akan memudahkan proses pelaksanaan audit nantinya dikarenakan proses audit yang dilaksanakan para auditor juga akan terbagi sesuai aspek yang dinilai.   Sehingga akan terjadi suatu komunikasi yang lebih berimbang antara auditor dengan auditee pada masing-masing aspek.

Untuk mempersiapkan team kecil dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain; mengirimkan pada diklat yang sesuai, merekrut tenaga yang sesuai kwalifikasi yang diperlukan atau melalui pendampingan oleh para ahli secara langsung di lapangan.   Cara mana yang akan ditempuh disesuaikan dengan kondisi dan kebijakan pada masing-masing unit konsesi.

Setelah team kecil dimaksud tersedia, maka selanjutnya adalah mempersiapkan, melakukan evaluasi atas operasional yang sudah berjalan, melengkapi/menyempurnakan prosedur operasional, memberikan pelatihan kepada surveyor dan operator alat berat.  Sehingga nantinya seluruh operasional mulai kegiatan perencanaan, pemanenan dan pasca pemanenan dapat sesuai dengan kriteria & indicator yang disyaratkan.



Minggu, 14 April 2013

Komponen Hayati vs Komponen Sosial



Dalam lingkup study analisis dampak lingkungan, perubahan lingkungan akibat kegiatan proyek akan memberikan dampak terhadap komponen fisik-kimia, biologis yang kemudian akan bermuara kepada aspek social budaya.  Dalam menduga dampak penting dan besarannya, maka dalam beberapa hal para peneliti dari aspek social dapat menggunakan data dari aspek biologi.  Hal-hal yang berkaitan yang dapat memberikan masukan dari komponen hayati terhadap aspek social, antara lain;

1.      Perubahan jumlah hasil panen
2.      Perubahan terhadap produktivitas tanaman tahunan
3.      Perubahan produksi hewan
4.      Perubahan potensi perikanan
5.      Perubahan habitat
6.      Effek terhadap spesies hewan domestic
7.      Dll yang mempunyai kaitan dengan aspek social-budaya-ekonomi

Issu-issu pokok mengenai komponen hayati dalam kaitannya dengan komponen social dalam study lingkungan, nampaknya berkaitan erat dengan masalah perubahan habitat yang menyebabkan penekanan terhadap komponen hayati di dalamnya.  Seterusnya apabila perubahan komponen hayati tersebut sangat nyata sehingga mempunyai nilai ekonomis dan menimbulkan efek social, maka perubahan komponen hayati tsb akan memberikan dampak social.